Rabu, 09 Februari 2011

Mahalnya Jadi Wirausaha

Untuk memulai sebuah usaha atau benvirausaha, tidak cukup hanya mengandalkan kemauan yang ditun-jung keahlian. Dukungan modal baik untuk mengawali atau mengembangkan usaha mutlak diperlukan. Apalagi ketika persaingan usaha mulai memanas dengan kehadiran pemain-pemain besar dan asing.

Sayangnya, bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), permodalan masih menjadi barang mewah yang sulit digapai. Menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, UMKM masih dihadapkan pada tingginya bunga pinjaman bank. Akibatnya sektor ini tidak bisa berkembang akibat daya saingnya yang rendah.


"Perbankan sebagai salah satu sumber permodalan seharusnya memberikan pinjaman berbunga rendah agar UMKM dapat mengembangkan usahanya," tegas Ketua Kadin bidang UMKM Elias L Tobing di Jakarta, kemarin.

Jika kondisi itu terus terjadi dan tidak ada upaya serius dari pemerintah, nasib UMKM tetap akan suram. Meskipun pemerintah sudah menggulirkan program kredit usaha rakyat (KUR), bunga yang diberikan masih* terlalu tinggi.

"Bunga KUR berkisar 14%-16% per tahun, padahal di luar negeri seperti China hanya 3% per tahun. Wajar saja UMKM di China mampu berkembang pesat dan produknya membanjiri pasar domestik dengan harga murah."

Elias mengingatkan, UMKM dihadapkan pada persoalan minimnya keterampilan, teknologi, dan akses pemasaran. Akibatnya mereka bisa semakin terpuruk tanpa pendampingan serta dukungan pemerintah. Salah satunya akses pada pembiayaan murah.

"Kami minta pemerintah menekan perbankan untuk menyalurkan kredit dengan bunga rendah dan tidak mewajibkan adanya jaminan. Lebih bagus lagi jika bank memberikan bunga 3% bagi UMKM seperti di luar negeri," tegas Elias.

Pada kesempatan terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato peng-arahannya saat membuka Gerakan Kewirausahaan Nasional di Jakarta, Rabu (2/1), mengungkapkan, pemerintah akan terus mendorong penyaluran KUR. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, realisasi KUR tahun lalu mencapai Rpl4 triliun (lihat grafis). Hal itu merupakan salah satu upaya pemerintah menggenjot pertumbuhan UMKM dan wirausaha.

Kunci ekonomi

Meski dihadapkan pada berbagai kendala, pengembangan wirausaha merupakan kunci untuk meningkatkan perekonomian. Hal itu diakui presiden. Menurutnya, potensi pengembangan kewirausahaan juga masih besar. Itu ditunjang sumber daya manusia yang besar dengan jumlah penduduk produktif yang tinggi.

"Kalau kita jujur, ekonomi di seluruh Indonesia baik dari sisi pertanian, industri, dan jasa masih sangat bisa dikembangkan. Ini peluang bagi wirausaha," ujar Presiden.

Presiden mengakui lapangan kerja di pemerintahan sangat terbatas. Jumlah pegawai negeri saat ini 7,66 juta orang yang terdiri atas pegawai sipil 4,7 juta, pengajar 2 jutaan, militer 460 ribuan, dan kepolisian 400 ribuan. Sehingga, ia mengajak masyarakat berwirausaha.

Dengan pernyataan tersebut, dukungan kepada wirausaha, khususnya UMKM, semestinya bukan hanya wacana. Sehingga persoalan klasik UMKM, yakni akses pembiayaan dan pasar, bisa diselesaikan. Persoalan ini tidak bisa ditawar lagi, pengembangan wirausaha dan UMKM merupakan solusi mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan pengangguran.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2010, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,32 juta atau 7,14% dari total penduduk sebanyak 237,8 juta orang. Adapun angkatan kerja di Indonesia 116,5 juta dengan kesempatan kerja 108,2 juta sehingga angka pengangguran sebesar 8,32 juta orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar